December 30, 2016

Dari Kecebong, Sampe Katak Muda

Akhir tahun, rasanya minggu terakhir di bulan desember kadar kemalasan dateng ke kantor itu bisa nyampe 95 persen. 5 persen sisa karena cuma pengen beli es krim glico di Family Mart. Sebatas itu aja motivasi ke kantor.

2016.

Apa ya… 


2016, dibuka dengan rasa syukur karena dikasih kesempatan buat wakilin kelompok teater Enjuku dalam program JENESYS ke Kobe. Lagi, mimpi yang jadi kenyataan secara langsung. Terima kasih, Sensei dan pengurus yang kasih kesempatan ini. Ketika karya anak Indonesia dihargai sama negara lain? Susah juga mau nggak bangga. 


Setelah itu, keputusan-keputusan harus aku ambil. Kerja atau lulus kuliah? Aku sempet internship di kantor advertising yang kerjaannya aku banget, gitu. Copywriter, dengan tema wedding dan love story. Alhasil, aku nggak ngerjain skripsi. Alhasil aku lebih seneng kerja di kantor dibanding harus bimbingan sama dosen. Untungnya, di bulan April, ketika ikut lagi dalam project pementasan di Jepang, motivasi lulus kuliah itu muncul lagi. Karna toh, mimpi aku sepenuhnya berasal dari jurusan kuliah yang harus aku selesain tahun ini.
 
Harus-tahun-ini. Karena aku nggak mau bebanin biaya kuliah lebih banyak lagi kalo harus nunda. Ini tanggung jawab aku yang udah milih masuk kuliah dengan jurusan yang aku mau. Malu rasanya kalo akhirnya harus nunda.
Didorong rasa malu itu, dengan kekuatan dikejar deadline, selama dua bulan ngerjain skripsi rasanya nggak napas. Nggak sempet, ibaratnya gitu sih. Apalagi waktu ngerjain BAB 4, dengan analisis panjang dari 45 sampel data… itu aku nggak mikirin kapan selesai, tapi aku kerjain aja dulu, aku kerjain siang—nggak bisa, aku kerjain malem—jadinya begadang. Sakit lah, nggak mandi, jarang keramas, ke abang potokopian dengan rambut awut-awutan. Aku nggak tau kenapa selebay itu ngerjainnya, mungkin karena ada beban harus selesai di akhir bulan Juni.
Pada akhirnya, selesai. Terima kasih untuk Dosen Pembimbing yang setiap saat aku teror, kapan bisa bimbingan, kapan bimbingan, kapan… bisa sidang? HEU.

Mungkin itu jadi perjalanan paling berkesan di tahun ini. Aku kenal rasanya segala hal di dalam hidup. Mulai dari kerja keras, pengorbanan, tanggung jawab, konsistensi, dan ikhlas. Momen paling terpuruk adalah ketika nanya ke orang tua apa bisa lulus semester ini. Kalo belum bisa, minta maaf. Abis itu nangis. Abis itu nggak tau lagi harus ngapain. Kalo bukan karena orang-orang deket aku yang yakinin kalo aku bisa, aku mungkin masih nangis.
Terima kasih. Sekarang kalian yang harus berjuang, ya! Untuk hidup, untuk orang tua, untuk diri kalian sendiri…
Terutama untuk kamu.

Perjalanan panjang ini ditutup dengan ceremony wisuda yang mengharukan. Cuma untuk bisa sampe di momen inilah, pengorbanan berbulan-bulan itu dilakuin. Mana ada orang tua yang nggak bangga anaknya lulus kuliah? Bayangan mereka kita bisa jadi orang yang hebat kelak, kita bisa hidup mandiri, dan bisa berbuat banyak buat orang lain. Dan juga, sebagai bukti atas tanggung jawab kita, nggak sedikit orang tua ngeluarin biaya kuliah, kan?

Setelah perjalanan panjang itu, aku bersyukur bisa langsung dikasih kesempatan untuk ngelangkah ke step berikutnya. Jadi shakaijin, ungkapan di Jepang untuk orang-orang yang udah lulus sekolah dan mulai gabung di dunia masyarakat sungguhan. Dalam bidang apa pun.
Kantor baru, jadi karyawan baru. Kerja dari jam 9 sampe jam 5. Tipikal orang gede. Macet di jam-jam sibuk. Ikut desak-desakan di bus Transjakarta. Awalnya masih dinikmatin dan bersyukur sama dunia baru, nggak ada yang ngebebanin. Tapi lama-lama mikir, apa bakal selamanya gini terus? Jauh dari rumah dan keluarga. Ketemu sebulan cuma 2 kali.
Aku bisa bertahan sampe kapan?

Tapi bersyukur orang-orang disekeliling punya dorongan tersendiri. Punya power yang bisa nyadarin aku kalo hal kayak gini ya wajar. Meski nggak tau sampe kapan, asal sekarang bisa nerima keadaan dan lebih banyak bersyukur. Apa yang didapet, apa yang dicapai. Semua itu bisa jadi motivasi buat nunjukin ke keluarga aku bisa kasih yang terbaik buat ke depannya. Dan kebanyakan orang akan selalu bertahan ketika motivasinya adalah kedua orang tua.
Terima kasih.
Terima kasih selalu taro aku di posisi yang bisa bikin aku jadi orang yang lebih baik.

2016 punya step perpindahan yang masing-masing punya pola sendiri. Ibarat metamorfosis. Dari kecebong, sampe katak muda.

Dan, halo 2017. Resolusi?

Siap jadi katak dewasa.
Dan tetep. Masih pengen tinggi.

Peluk cium peluk cium,
Rika      

October 27, 2016

Liburan ke Melbourne, Musim Panas Impian di Australia!

Akhir tahun biasanya jadi periode paling populer untuk liburan. Beberapa objek wisata dan pulau-pulau eksotis banyak dijadikan pilihan, nggak terkecuali yang ada di luar negeri. Soal budget dan persiapan pastinya udah direncanakan dari jauh-jauh hari. Atau mungkin, liburan dadakan?

Soal liburan, kadang ide-ide baru dan keluar dari zona nyaman itu perlu dicoba. Great things never came from comfort zone! Mungkin bisa dimulai dari pilihan destinasi liburan kali ini.



Wisata ke Australia, mungkin? Dengan musimnya yang berkebalikan dari negara-negara di belahan bumi utara. Ketika Natal dan liburan akhir tahun seringnya dihabiskan di tempat bersalju atau paling nggak udaranya dingin, beda sama benua paling kecil di dunia ini, Australia punya Natal dan Tahun Baru yang jatuh di musim panas. Jelas beda sama negara 4 musim lainnya, kan?

Negara yang disebut Negeri Wool ini juga punya hewan khas yang unik dan terkenal, koala dan kangguru. Belum lagi spesies reptilnya yang beragam, mulai dari yang berbisa hingga reptil biasa.

Ada banyak pilihan kota yang bisa dijadikan tempat untuk menghabiskan liburan selama pergantian tahun, yang artinya bisa merasakan suasana musim panas di Australia!

Dan Melbourne, bisa jadi pilihan yang luar biasa. Beberapa orang bilang cuaca di Melbourne dalam satu hari bisa berubah-ubah, bahkan dalam satu hari kita bisa mengalami empat musim sekaligus. Makanya jadi punya gelar 'a city with four seasons a day'. Menarik! Mengecek prakiraan cuaca pun bisa jadi kebiasaan rutin orang-orangnya setiap hari.

Rasanya liburan musim panas di Melbourne akan sangat menyenangkan. Dengan cuaca ekstrim dan heat wave yang melanda sepanjang musim panas, kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk menghabiskan liburan di Melbourne? Berikut 7 hal menarik yang bisa dilakukan untuk menghabiskan musim panas di Melbourne!

1. Berburu Kuliner Asik


Menyusuri lorong-lorong jalan yang ramai di area Central Bussines Distric (CBD) jadi agenda yang nggak boleh dilewatkan. Makanan-makanan yang dijajakan di sepanjang Laneway Arcade Block bisa jadi pilihan, meskipun dijual secara kaki lima, namun variasi menunya bintang lima. Meskipun berupa gang-gang sempit, tempat ini sering dijadikan pilihan bersantap siang bagi para karyawan atau eksekutif muda.


Makanan khas Australia mulai dari spaghetti, sandwich, soup & pasta, hingga chicken salad dan berbagai makanan barat lainnya tersedia di tempat ini. Ukuran kedainya bahkan tidak lebih dari 3 x 4 meter dengan hanya menyisakan ruang untuk tempat duduk sekitar 8-10 kursi. Kalau kehabisan tempat duduk, makan sambil berdiri juga sering jadi pilihan. Meskipun berada di kawasan sentral bisnis, harga makanannya cukup rasional. 

2. Berkeliling Kota dengan Trem dan Shuttle Bus


Melbourne memiliki jaringan Trem terbesar di dunia, itulah mengapa akses / transportasi di kota ini begitu mudah. Trem City Circle cocok untuk berkeliling kota sambil menikmati bangunan-bangunan unik di Melbourne secara gratis. Tidak ketinggalan panduan wisata yang bisa didapat selama perjalanan, mengambil foto pun jadi agenda yang harus dilakukan.


Selain Trem yang ikonik, Shuttle Bus juga tersedia untuk para turis yang ingin menikmati kota Melbourne. Puas berkeliling, berhenti di Federation Square (Fed Square) untuk mengambil beberapa foto dengan pemandangan yang cantik sebagai ikon kota Melbourne.

3. Kunjungan Seni, Budaya, dan Museum


Melbourne memiliki beberapa galeri yang cantik, lengkap, dan tertata rapi, di antaranya adalah National Gallery of Victoria (NGV) yang banyak menyimpan berbagai koleksi lukisan, foto, ukiran , perhiasan, dan gambar-gambar khas Australia, terdapat pula koleksi lukisan karya seniman-seniman Aborigin dari abad ke 19. Mengunjungi galeri seni dan museum tentunya akan menambah pengetahuan dan minat terhadap seni dan budaya Australia. 


Beberapa galeri lainnya adalah Australian Centre of Moving Image (ACMI) dan Australian Centre for Contemporary Art. Tempat ini menyajikan pengetahuan sekaligus hiburan. Ada banyak games dan film yang bisa dimainkan dan ditonton. Atau, Victoria State Library yang memiliki koleksi buku luar biasa banyak, ada lebih dari 2 juta tersedia di perpustakaan dengan interior desain yang begitu indah ini.

4. Piknik di Taman Botani


Selain julukan 'a city with four seasons a day', Melbourne juga dikenal sebagai Garden City karena selalu ada taman di berbagai sudut kotanya. Salah satu taman yang memikat hati dan cocok menjadi tempat piknik adalah Royal Botanic Gardens. Luas Taman Royal Botanic mencapai 38 hektar, di dalam taman ini terdapat lebih dari 10.000 spesies tanaman dan tempat bermain untuk anak-anak.


Terdapat juga taman yang tidak kalah indahnya di seberang Royal Botanics, yaitu Shrine of Remembrance, di dalamnya terdapat tugu peringatan untuk menghargai jasa tentara yang meninggal pada Perang Dunia 1. Bangunan yang sangat artistik, bernilai sejarah, dan taman yang indah menjadi tempat favorit bagi wisatawan. Royal Botanic Gardens dan Shrine of Remembrance dapat dinikmati secara gratis.

5. Bertemu dengan Binatang Khas Australia


Berinteraksi dengan binatang khas Australia seperti platypus, koala, burung emu, tasmania devil (hewan marsupial yang terlihat seperti anjing kecil gemuk) dan wombat (marsupial berkaki pendek) bisa dilakukan di lembah Perbukitan Yarra, Healesville Sanctuary. 


Melbourne juga memiliki pulau yang penuh dengan pinguin, yaitu Phillip Island. Pulau yang menjadi salah satu rumah besar bagi kawanan 'Little Penguin' di dunia. Terdapat parade yang begitu menarik, pada saat matahari terbenam, kawanan Little Penguin akan berlari kecil dari pantai ke lubang–lubang rumah mereka di pasir. Pemandangan yang lucu ini akan menjadi pengalaman yang berharga bagi wisatawan yang datang menonton.

6. Menikmati Wisata Pantai



Pantai St. Kilda menjadi salah satu ikon kota Melbourne yang patut dikunjungi. Pantai yang paling terkenal di Victoria ini menawarkan berbagai olahraga air seperti selancar angin, berlayar, selancar layang, bersepatu roda, voli pantai, berjetski dan ski air. Berjalan kaki dan bersepeda sambil menikmati suara ombak juga bisa dilakukan dengan adanya jalur khusus yang tersedia untuk pejalan kaki dan sepeda.



Di daerah St. Kilda Beach terdapat Sunday Art Market yang menjual berbagai oleh-oleh dan merchandise khas Australia. Wisata pantai ini akan menjadi pengalaman liburan yang begitu menyenangkan dan lengkap.

7. Belanja, Belanja, dan Belanja



Bangunan-bangunan tua di Melbourne menjadikan kota ini begitu indah. Collin Street salah satunya, daerah terkenal di Melbourne ini memiliki ciri khas masing-masing. Pertama, New York daerah yang lebih modern. Gedung-gedung tinggi, kafe dan bar, serta perkantoran menjadi pemandangan yang khas. Kedua, Paris End daerah yang bisa dibilang lebih kuno terdapat bangunan-bangunan klasik namun ditempati oleh boutique-boutique yang berkelas. Bagi penggemar fashion mungkin ini akan menjadi surga.



Ada juga tempat dengan harga yang lebih terjangkau. Pasar! Seperti apa sih pasar di Melbourne? Queen Victoria Market memiliki daya tarik tersendiri. Pasar ini menawarkan keberagaman barang dan harga yang relatif murah mulai dari cenderamata, baju, sepatu, perhiasan, hingga bahan makanan seperti daging, sayur, dan buah-buahan. Pastinya cocok untuk belanja oleh-oleh!

Keindahan dan keunikan kota Melbourne menjadikan biaya hidup cukup mahal, tetapi sebagai kota modern ada banyak fasilitas umum yang dapat digunakan secara gratis, seperti air minum, akses internet, kartu pos, darana transportasi, dan sample makanan gratis di setiap kedai-kedai pinggir jalan.

Tertarik untuk merencanakan liburan ke Melbourne? Cek paket tour dari H.I.S. Travel Indonesia untuk mendapatkan berbagai penawaran menarik mulai dari tiket pesawat, hotel, hingga tiket wisata.

H.I.S. Travel Indonesia adalah travel agent di Jakarta yang menyediakan berbagai fasilitas liburan, perjalanan bisnis, hingga umrah. Dan juga menyediakan paket tour pilihan seperti Magnificent Melbourne - Morning City Tour, Philips Islands - Penguins, Kangaroos Koalas, 1 Day Great Ocean Road & Rainforest Tour dan masih banyak lagi. Dengan pilihan yang banyak, merencanakan liburan juga bisa lebih mudah. Untuk detail paket tour lainnya bisa lihat di his-travel.co.id atau langsung menghubungi call center H.I.S. Travel Indonesia.



Better to see something once than to hear about it a thousand times. Sama seperti traveling, daripada hanya mendengar dari orang lain, yuk coba rasakan sendiri traveling kamu!

Sumber Gambar :
flinderslandingapartments.com.au
travel.detik.com
listsurge.com
meandmoments.com
klausandfritz.com
coolerinsights.com
ccconferences.com.au
visitmelbourne.com
architectureau.com
blog.his-travel.co.id
australiatraveldirectory.com
heraldsun.com.au
tripadvisor.com.au
www.collinsstreet.com.au
expedia.com

September 30, 2016

Life is Simple

Banyak cerita, ya. Pertama soal wisuda dulu lah karna berita ini masih anget, eh udah lewat 24 hari yang lalu sih, tapi tetep anget lah ya.


Aku sebenernya masih nggak ngerti kenapa momen wisuda selalu jadi momen yang dinanti-nanti setiap orang khususnya ya wisudawan itu sendiri. Entahlah, sampe ribet siapin kebaya, milih salon, booking studio foto, dan masih banyak lagi. Aku masih nggak paham dan tetep ikut-ikutan.

Aku pikir, kenapa ribet banget, lagipula ini cuma ceremony satu hari, bagian pentingnya kan penyerahan surat keterangan lulus itu, udah, perkara mindahin tali toga... itu kayaknya sunah, ya nggak sih? Karna senior aku pernah nggak bisa ikut wisuda karna keburu caw ke Jepang, buktinya tetep sarjana juga statusnya.

So, dari situ aku mikir. Emang buat apaan sih?

Ternyata setelah hari H aku baru sadar. Semua keribetan ini buat orang tua, yang selalu support, selalu pengen anaknya jadi kebanggaan, dan aku nggak bisa nggak nangis kalo soal ini. Ketika nemenin aku di Hall D JIExpo tanggal 6 bulan ini, aku nggak tau harus apa selain nahan nangis karna males banget kalo sampe maskara luntur dan bulu mata palsu copot. Aku nggak tau jelasnya perasaan kedua orang tua aku ketika liat aku pake toga, tapi dari mata mereka aku tau mereka bangga banget dan nahan nangis juga. Sesederhana nyelesain kuliah 4 tahun, ternyata nggak perlu duit sekoper buat bikin orang tua bangga.


Bahkan sampe aku mulai masuk dunia kerja sekarang. Mereka selalu tanya di awal-awal aku masuk,
Capek nggak?
Uangnya cukup buat berangkat kerja? Buat makan?

Mereka selalu pastiin aku baik-baik aja jalanin dunia yang baru, tapi nggak pernah manjain juga, karna dengan resmi uang bulanan aku dicabut setelah gaji pertama masuk rekening. Rasanya aku bener-bener harus menghidupi diri ini sendiri dan pastinya mulai bantu orang tua yang sadar nggak sadar ternyata semakin berumur.

Hidup ternyata sesimpel ini. Aku bersyukur masih didampingi secara utuh.

Belum lagi kehadiran orang-orang ini. Temen-temen kampus yang meskipun nggak bisa pake toga barengan tetep support dan kasih doa-doa (serta hadiah-hadiahnya). Nggak pernah nyangka momennya bakal sebahagia ini, karna mungkin ini juga jadi farewell... dan selamat tinggal kehidupan kampus yang selalu ada cerita, dari seneng banget, seneng, sampe sedih, bahkan sedih banget.



Langsung muncul gitu aja momen-momen di mana pertama kali aku ngurusin masuk kuliah, nyiapin ospek, hari pertama belajar, ketemu temen baru, hidup jauh dari orang tua, ikut kegiatan ini-itu, kesel sama dosen, belajar di LPM, dapet nilai bagus, ngerasain beasiswa, ke arion kalo lagi promo ayam dan nggak ada dosen, tidur-tiduran di hima, makan di blok m, jajan jualan anak danus, belajar kanji, nyontek kuis bunpou, ketemu orang-orang Jepang, jadi panitia Jimat, kejebak banjir di gedung d, dan lain-lainnya... dan masih banyak lagi. Banyak, banget. Aku buka folder foto pas zaman kuliah di laptop, itu filenya nggak sedikit, dan aku seneng bisa punya semua momen-momen itu. Terima kasih banyak angkatan 2012, aku beruntung bisa seangkatan sama manusia-manusia kayak kalian yang dosen aja males ngurusinnya karna terlalu petakilan dan ada aja tingkahnya.

Sahabat yang udah muncul dari zaman rambut dikepang ke belakang! Amyuuus kenapa harus sampe nyasar mau JIExpo dan susah komunikasi karna hp mati. Dan akhirnya ketemu juga. Makasih banyak selalu hadir di momen-momen pentingnya aku, bahkan sampe momen terburuk aku. Makasih banyak dan harus saling nyempetin ketemu, ya.



Dua perempuan ini perwakilan dari satu keluarga yang udah nerima aku selama lebih dari 2 tahun ini. Teater Enjuku, rumah yang jadi tempat aku bisa ngeraih mimpi dengan orang-orang yang super. Lia, Kak Regina, Kak Ichi, Kak Bila, dan semuanya terima kasih banyak!


LEDIG! Manusia-manusia ini yang bikin kehidupan pertengahan sampe akhir perkuliahan aku nggak sedatar semester awal. Cuma mereka yang tau jeleknya tabiat aku kalo lagi dapet. Cuma mereka yang tau berisiknya aku kayak apa. Cuma mereka yang tau kalo aku ngambek mending diturutin aja maunya apa. Cuma mereka… yang selalu seperhatian ini. Terima kasih sahabat-sahabat kesayangan, dan satu lagi, cuma kalian yang berani-beraninya revisi kata pengantar aku, padahal Frida Sensei udah acc. Terba(u)ik memang!


Dan buat kamu yang selalu jadi yang spesial. Kamu yang yakinin aku maju sampe titik ini. Aku sayang kamu, Dear.

Dengan  bangga aku bilang, aku bahagia jadi diri aku sendiri dengan atau tanpa pengakuan dari siapa pun. Ternyata pada akhirnya aku bisa lewatin beberapa kondisi yang tadinya aku sendiri pun nggak yakin bisa.

Sekarang fasenya udah beda. Umur makin nambah, tanggung jawab makin besar lagi, hidup nggak maksa kita buat ribet, kalo bisa dibikin simpel kenapa harus dibikin berat? Aku ngerasain juga, ternyata apa pun kalo dijalanin sesimpel mungkin, jadinya nggak bakal drama queen.

Walaupun udah lulus, kosan aku masih belum pindah, masih di depan pager kampus, dan masih dipanggil buat acara kampus. Jadi, kemaren ada acara dari HIMA Jurusan, semacam kumpul-kumpul dari angkatan awal sampe mahasiswa terbaru tahun ajaran ini. Terus aku jadi pembicara dong! Ini sih gaya-gayaan banget, ditunjuk jadi pembicara soal pencapaian semasa kuliah, gitu. Padahal aku anaknya super bawel dan heboh. Pernah dimarahin dosen karna ngobrol terus, pernah ketauan nyontek, tapi yang penting skripsinya selesai ya, Sensei. HAHAHAHA.


Tapi kalo ternyata aku bisa menginspirasi adik-adik Jurusan aku, aku seneng banget bagi pengalaman ini kok. Dan, inilah penghargaan sesungguhnya dari Sensei setelah predikat terbaik satu bulan silam…

Prestasi yang sesungguhnya!

August 13, 2016

Officially Shakaijin

Setelah melalui bulan-bulan penuh tekanan, akhirnya Jumat kemaren officially Shakaijin (lulus kuliah, bergabung di masyarakat—istilah orang Jepang)!!! Aku sidang seminggu sebelum lebaran tanpa hasil yang jelas karena sidangnya kecepetan kayaknya jadi harus nungguin temen-temen lain yang sidang gelombang selanjutnya. Dan bahagia ketika minggu lalu liat nilai udah keluar… he he he Alhamdulillah apa yang aku lakuin sepanjang bulan-bulan penuh derita itu nggak sia-sia.

Terima kasih dan selamat buat diri aku sendiri. Aku yang lewatin ini semua dengan bantuan, dukungan, dan doa dari orang-orang terdekat dan temen-temen juga dosen semuanya. Predikat mahasiswa dengan nilai tertinggi di jurusan itu rasanya yang paling nggak bisa aku percaya, aku nggak pinter-pinter amat, ujian kemampuan bahasa Jepang aja levelnya masih cupu, tapi mungkin aku anak yang beruntung, tapi kalo kata Sensei ini karena aku ulet dan punya komitmen. Apa pun itu, aku bangga. Aku bangga bisa jadi diri aku sendiri, sejak aku pilih jurusan ini, segalanya bawa aku secara nggak langsung menuju mimpi yang aku pengenin. Tapi yang paling penting, aku bangga bisa buktiin ke orang tua, aku bisa dan pertanggung jawabin pilihan aku empat tahun lalu.

Skripsi tuh, ya, semacam tantangan buat diri sendiri. Riset sendiri, bikin judul pake ide sendiri, cari bahan sendiri, penelitian sendiri, yang waktunya pun kita yang nentuin sendiri. Mau besok kek, mau weekend, mau pas lagi senggang, atau cuma kalo lagi niat aja. NAH! Itu dia tuh tantangannya. Nggak ada yang berhak ngatur atas skripsi kita, kecuali dosen pembimbing (itu pun kalo menyangkut teori dan prosedur penelitiannya), soal waktu, soal niat, kayaknya peduli amat mereka.

Karena itulah, skripsi itu lebih dari sekedar UAS Bunpou, lebih dari sekedar UAS Kanji… bahkan lebih dari Noryoku Shiken—eh nggak juga deng, noken pusing juga. Tapi setidaknya, Noken cuma tes sehari, abis itu yaudah. Kalo nggak lulus, ya nasib. NAH! Kalo skripsi nggak ada ukuran lulus atau nggaknya. Kalo nggak dikerjain ya macet, ya ujung-ujungnya harus dilanjutin juga, nggak bisa dilupain gitu aja—ya kecuali ada impian nggak mau lulus sih dan masih sanggup bayar semesteran.

That’s why, aku kerjain skripsi dengan penuh tekanan karna dikejar waktu. Setelah vakum sebulan karna project teater, aku mulai ngerjain lagi, kebut-kebutan ngelanjutin bab 2, bab 3. Sebulan sebelum pengajuan sidang aku masih baru mau mulai bab 4, masih ngumpulin data, masih milah-milah data, ditambah lagi dosen pembimbing yang sibuk nggak bisa ditemuin, rasanya kayak ‘yaudah lah, semester depan aja’. Tapi aku pikir kenapa nggak diusahain sih, dan pada akhirnya aku ngejar dosen pembimbing dengan cara apa pun. Nah ini baru namanya perjuangan. Ngerjain skripsi ya tinggal ngetik di laptop, kan, ya asal data udah kekumpul, teori udah mateng. Nah… kalo dosen pembimbingnya nggak bisa ditemuin? Itu butuh perjuangan banget. Dan serius, aku sampe ke tempat pelatihan beliau dari Bekasi malem-malem ke Kuningan. Belum lagi minta tanda tangan buat pengajuan sidang itu… rasanya mending disuruh ngerjain soal Kanji I (hahahahahaha Kanji I).

Prosesnya nggak panjang, tapi aku akui emang berat. Ada banyak banget hambatan, rasa pengen nyerah, kalo nggak disupport dari mana-mana aku udah ngambang mungkin, kayak eek. Ada Mama sama Babah yang selalu nyemangatin, selalu bilang “Kalo masih bisa diusahain, coba dulu, hasilnya gimana ya liat nanti”. Adek aku yang selalu aku chat kalo lagi nyerah senyerah-nyerahnya, dia bilang “Usahain ke Jepang aja bisa, masa ngetik aja nggak bisa”. Mirza juga aku tanyain emang percaya aku bisa lulus semester ini, dia jawab “Percaya kok”. Gitu aja ya aku kayak dapet semangat tiba-tiba. Sahabat-sahabat di kampus juga, kalo ketemu selalu bilang “Semangat Ka!”. Aku bersyukur dikelilingi orang-orang yang bisa bikin aku nggak nyerah di tengah jalan. Udah cukup mereka hadir atau sekedar chat nyemangatin.

Sampe akhirnya ya… Aku sidang 28 Juni 2016! Itu seminggu sebelum lebaran, kampus udah sepi-sepinya pada mudik, ini malah stand by di depan ruangan pake baju putih rok item bawa-bawa lembaran skripsi. Sidang. Beh… soal deg-degan jangan ditanya, padahal malemnya masih bisa main aplikasi foto jadi nenek-nenek, ketawa-ketawa, terus ketiduran di kosan kak Ayu. Eh paginya mulai mules-mules, deg-degan nggak jelas, Mirza sampe nenangin—yang caranya malah bikin makin deg-degan—gitu. Babah nelpon bilang jangan terlalu tegang, santai aja. Kak Regina, Kak Ayu (yang hari itu sama-sama sidang juga), anak-anak Ledig juga sampe keluar ruangan sidang masih nenangin karna bukannya lega malah makin deg-degan karna nggak dikasih tau hasilnya. Tapi akhirnya, selesai juga. Selepas hari itu aku pulang ke rumah, tidur lebih dari 15 jam karna kebetulan lagi puasa juga sih—lemes—makruh, ih. Tapi itu semacam balas dendam karna dua minggu sebelumnya jarang tidur, jarang keramas, bahkan jarang mandi ke kampus. Super jorok, lah. Tapi kebayar.

Dan selepas itu, ternyata masih ada lagi yang nggak kalah heboh. Setelah bingung-bingung nggak jelas nerima offering atau nggak, akhirnya sekarang aku udah mulai kerja. Baru masuk minggu kedua, minggu pertama kerja rasanya seneng karna ini pengalaman baru, seems aku nemu dunia baru. Minggu kedua udah rempong. Dan—sibuk sibuk day coming soon.

Aku ngetik ini di kantor, sabtu gini aku masih masuk. Kantor aku nggak kenal #TGIF, apa itu weekend hari sabtu? Ada, sih… Tapi dijatah. Meski gitu, aku tetep seneng seneng aja, atau (masih) seneng seneng aja, ya? Belum nyemplung lebih dalam lagi. Tapi, karna dapet tim kerja yang welcomed banget, aku jadi ngerasa nyaman. Semoga longlasting sih, kayak mascara.


Bye! Aku kerja dulu!

August 11, 2016

Growing Up

Dulu tuh, waktu masih sekolah, yang aku pikir soal jadi dewasa itu emang nggak pernah menyenangkan. Banyak hal yang bakalan lebih rumit daripada sekedar perkara dihukum guru, ngerjain PR banyak banget, atau ketauan nyontek. Bakal lebih dari itu. Aku udah bayangin.
Tapi, belum ngerasain. Jadi waktu itu masih nggak begitu khawatir. Masih jalanin aja, toh masanya bakal dateng sendiri, nggak bisa ditawar. Hidup harus terus berlanjut, umur bakal terus bertambah, kehidupan bakal berubah.
Dan saat ini mungkin masa itu tiba. Kayak, aku disodorin sama kenyataan di depan mata secara tiba-tiba, kenyataannya nggak buruk—nggak pahit—tapi rasanya mulai khawatir aja. Setelah ini aku bakal jalanin hidup yang lebih rumit, lebih butuh pertimbangan untuk ini itunya, lebih butuh sikap wise buat menyikapi segalanya.
Belum lagi mikirin orang tua, makin dewasa makin besar keinginan setiap orang buat bikin mereka bahagia, semacam balas budi yang emang nggak akan kebales semuanya. Semua orang tau, semua orang sadar, orang tua selalu lakuin yang terbaik buat anak-anaknya, but then… kita ninggalin mereka. Meski, ya, meski tujuannya pun buat bikin mereka bahagia, tapi jauh dilubuk hati mereka, mereka cuma mau anak-anaknya kumpul di rumah, makan bareng, ngobrol, nonton tv bareng-bareng. Cuma itu, aku rasa.
Aku baru sadar setelah adek aku berangkat ke Solo kemaren, Mama sama Babah nganterin ke sana, aku nggak bisa ikut karna kerja. Dan iya, aku baru sadar artinya di rumah bakalan sepi, cuma tinggal bertiga, rasanya pasti beda. Aku mikirin adek aku di sana bakal gimana, anak itu agak males sosialisasi, suka bingung sendiri, aku khawatir dia sendirian di sana, ya akhirnya aku malah nangis terus dari kemaren. Pas Babah telepon, ternyata Mama juga nangis pas liat kamar sepi nggak ada adek aku. Katanya tiap inget kalo adek aku bakal lama nggak pulang, Mama nangis. Ya aku mana tahan… ikutan nangis lagi di telepon.
Babah nanyain kabar, nanyain cukup nggak uangnya buat makan sama ongkos ke kantor, nanyain kapan pulang, kalo nggak pulang yang penting nggak lupa makan sama solat, pesen supaya aku support adek aku terus takutnya di sana ngerasa belum betah.
Apa ya, orang tua tuh sebenernya nggak minta apa-apa selain anak-anaknya baik-baik aja. Sepanjang ngerawat kita, mereka nggak pernah nuntut kalo someday kita harus biayain hidup mereka, asalkan kita bisa jaga diri, kebutuhannya cukup, ya udah mereka bakal lega.
Aku baru sadar sekarang. Ternyata jadi dewasa itu lebih dari sekedar rumit, lebih dari sekedar nggak asik. Tapi itu sih yang bikin kita jadi lebih baik, ibaratnya ditempa, diuji kesabarannya, diliat seberapa bijaksananya kita dalam jalanin kehidupan.
Aku tuh… kesambet apa sih. Dari kemaren mau posting blog rutin lagi sejujurnya. Tapi nggak sempet karna musti ngerjain kerjaan. Banyak pengalaman yang aku sendiri nggak nyangka akhirnya bisa ngelewatin itu semua. Pencapaian-pencapaian hidup itu, pengalaman yang bener-bener nggak mungkin aku lupain. Next time, aku bakal curhat juga sih di sini.
Terbaper ya emang cuma aku kayaknya, sama Mama aku, sih. See ya!

July 23, 2016

Ketakutan Super Nggak Jelas

Hari ini kampus penuh sama orang-orang yang rata-rata baru lulus SMA dan beberapa kemungkinan orang-orang yang udah lulus tahun kemaren-kemarennya, atau orang-orang iseng yang ikut tes masuk kuliah jalur mandiri.

Dan aku, kategori kakak baik yang nganter adeknya ujian mandiri.

Dulu, empat tahun yang lalu, aku juga di tempat ini bawa-bawa papan jalan dan satu set kotak faber castel yang isinya dua biji pensil, satu penghapus, satu penggaris, dan satu rautan. Aku pernah di posisi itu, antara khawatir dan udah bodo amat. But, I do my best. Well, akhirnya aku jadi anak UNJ. Dan akan menjadi alumni sebentar lagi. Insha Allah.

Akhir-akhir ini aku makin sering khawatir soal segala hal. My heart beat so fast, rasanya tuh kayak di depan udah ada tembok besar yang mustahil runtuh, ngeblocked seluruh rencana, nutupin segala kemungkinan. Aku, terlalu takut nggak bisa keluar. Nggak-enak-banget, seriously.

Pesimis yang makin menjadi-jadi, pikiran negatif yang selalu muncul, dan hal-hal menakutkan lain tiba-tiba terbesit. Bedain sama antisipasi. Karna ini tuh rasanya lebih pesimis.

Cerita menakjubkan soal sidang skripsi mungkin bakal aku ceritain lain kali. Sekarang aku udah tinggal nunggu yudisium dan ngurusin berkas-berkas wisuda. That’s why aku lebih banyak waktu luangnya. Sebenernya udah coba apply dan interview, tapi ketika di terima jadi pekerja kantoran di salah satu gedung-gedung Sudirman itu, rasanya… aku takut. Menghadapi ketakutan yang sebenernya nggak jelas. Fase kayak gini yang sekarang lagi aku alamin. Entah kenapa, tapi mencoba naik ke tingkat yang lebih tinggi itu rasanya berat. Mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Melibatkan hal-hal krusial. Baru mikirinnya aja aku udah sakit perut. Dan saat ini, statusnya masih gantung. Aku nggak tau harus ngambil langkah apa atas pertimbangan-pertimbangan lain yang sebenernya jadi alibi karena ketakutan super nggak jelas ini.

Selepas lulus kuliah, rasanya udah nggak sama lagi. Padahal makanan yang dikonsumsi masih sama. Ngelepas masa-masa kehidupan paling bebas menurut aku. Lebih dari itu, aku suka segala pencapaian semasa kuliah, motivasi yang nggak pernah surut, selelah apa pun—bahkan. Dan aku suka ketika aku serta merta ngambil keputusan dengan segala resikonya secara berani tapi bertanggung jawab. Nggak takut, tapi for sure aku nggak mau mengecewakan diri sendiri dan orang-orang sekitar. Dan sekarang, aku dalam fase kehilangan itu semua.

Aku belum tau kapan ini berakhir. Dan semoga akan cepat berakhir.

Hidup lebih mudah kalo dijalanin tanpa perlu terlalu sering khawatir. Do the best, then you’ve got a big surprise. Apapun.

But now, I dispute for that statement.