May 26, 2013

Notasi - Morra Quatro

Habis baca Notasi. Novel baru kak Morra Quatro kali ini berupa cerita sejarah (khususnya era reformasi) yang dikemas dalam bentuk tulisan manis, apik, dan tetap mengalir—sama kayak tulisan kak Morra biasanya. Terlepas dari bayang-bayang William Hakim (sebut saja Will—tokoh di novel Forgiven. Btw, dia ganteng) aku terlalu jatuh cinta sama tulisan kak Morra. Jadi aku selalu suka apa pun yang kak Morra tulis. Sampai novel ketiganya ini, Notasi.

Curhat dulu bentar sebelum review. Novel pertama—Forgiven, aku telat setahun. Nggak beda jauh, novel kedua—Believe, juga telat setahun. Dan waktu tau bakal ada novel ketiga dari kak Morra Quatro, aku langsung niat PO. Biar nggak telat lagi. Sampe akhirnya tanggal 26 April 2013. PO dibuka. Edisi tanda tangan. Itu masih diperjalanan—macet. Tapi langsung aku kirim email pemesanannya. Dan selesai.

20 Mei 2013, aku nerima Notasi. Rasanya… seneng, banget. Pas dibuka ada tanda tangan kak Morra dan satu quote dari Notasi. Yang kak Morra tulis di halaman depannya,

Rika, saat-saat istimewa dalam hidup selalu datang tanpa peringatan. Happy Reading.



Aku seneng. Senengnya pake banget. Makasih atas tanda tangan dan quotenya ya, kak Morra :)

Mulai review. Yay!

Notasi, novel yang latar waktunya di era reformasi. Masa di mana Indonesia dikepung banyak masalah. Masa ketika demonstrasi terjadi di mana-mana. Aku belum terlalu peduli sebelumnya tentang cerita-cerita demonstrasi di tahun 1998 itu—waktu umur aku masih 4 tahun dan beneran nggak inget apa pun tentang kerusuhan besar yang ada di Indonesia waktu itu. Tapi setelah baca Notasi, aku jadi tau apa-apa aja yang waktu itu terjadi di Indonesia.

Semua cerita sejarah (terutama era reformasi) dijabarin di novel ini. Peristiwa-peristiwa waktu itu di gambarin sebegitu detail. Aku suka bacanya. Menarik. Cerita sejarah yang penuh misteri. Penembakan, penculikan, dan lain-lain. Awalnya aku terlalu ngantuk kalo bahas sejarah-sejarah begitu, tapi sepanjang baca Notasi, aku malah tertarik buat nyari tahu lebih jauh lewat bantuan google atau nanti nanya temen yang emang hobi banget bahas masalah orde baru begitu.

Dimulai dari kehidupan kampus—lebih tepatnya organisasi kampus, semacam BEM dan teman-temannya. Perang antar fakultas yang jadi konflik pertama di novel ini. Ruang sekre. Acara di kampus. Kegiatan anak BEM. Dan aku suka (soalnya aku lagi masa-masanya ikut-ikut begituan, hahaha). Fakta kalo anak teknik itu emang keliatan kayak preman, jarang mandi, dan keras. Kampus UGM yang jadi latar tempatnya tergambar kental banget, kak Morra ini mungkin udah terlalu khatam sama denah salah satu kampus negeri di Yogya itu. Jadi mudah juga buat pembaca bayangin lokasinya. Plus ada ilustrasinya, tampilan baru. Yeah!

Kisah berlanjut. Kisah cinta antara Nino dan Nalia. Mahasiswa Teknik Elektro dan mahasiswi Kedokteran Gigi. Sederhana, natural, dan mengalir. Mulai dari bayangan kuda yang dilihat Nino dan Nalia di Sekip. Nino yang tiba-tiba cerita segala hal sama Nalia di warung Tiada Tara. Juga pertemuan-pertemuan mereka setelahnya. Nalia manjat. Ada Eross. Lapangan basket. Pos satpam. Radio. Dan masih banyak lagi. Emang langsung bisa ditebak kalo nantinya mereka berdua harus ngejalanin hubungan yang nggak mulus. Emang, ketebak. Tapi, ya, entah kenapa kak Morra ini selalu punya cara untuk bikin pembacanya meluluh—emm maksudnya kebawa suasana. Walaupun jalan ceritanya bisa ditebak, tetep, jatohnya nggak garing, nggak bosenin, malah menarik. Itu hebatnya kak Morra—menurut aku. Tulisannya selalu ngalir (mungkin kerannya bocor), ya kak? :p

Dan konflik-konflik percintaan waktu Nalia liat Veronika nggak suka dia deket sama Nino. Di tengah keributan demo sana-sini, tetep ada sentuhan manisnya, jadi nggak terlalu terpaku sama sejarahnya—yang kalo kita baca di buku sejarah waktu SMP atau SMA rasanya bikin ngantuk.

Sampai akhirnya Nalia dan Nino nggak bisa ketemu lagi. Akibat kerusuhan Mei ’98. Waktu Nalia nerima dan baca surat-surat dari Nino itu rasanya sedih. Hampa—karna ada banyak cerita yang mau dibagi, tapi terhalang jarak. Janji-janji yang dibilang Nino. Dan kesabaran Nalia buat nunggu Nino.

Endingnya. Aku gusar, sih. Tapi puas. Ikut ngerasain sesal yang Nalia rasain. Emang bener, Masa lalu sempat terlihat indah, namun kami tahu kami tidak lagi hidup di sana. —Notasi, Morra Quatro. Pada akhirnya Nalia dan Nino nggak bersatu. Cuma karena saat itu mereka udah saling terikat, tapi sama orang lain, orang yang berbeda. Nalia sama Faris. Dan Nino sama Veronika. Ending kayak gini terlalu menyiksa dibanding ending yang berujung kematian, itu kalo menurut aku. Habisnya sedih, sih.

Terakhir, aku selalu suka nama-nama yang ada di novel kak Morra. Selalu unik, nggak pasaran, dan nggak ‘maksa’. Notasi; ada Nalia, Nino, Faris, Farel, Tengku, Gomez, Zee, Veronika, Lin Lin, Aryo, dan lain-lain.

Nah, selesai.

Kak Morra, ini bagus. Bagus banget. Setara sama Forgiven—yang entah sampe detik ini masih nempatin urutan pertama sebagai novel terbaik (versi aku). Bahasan tentang Will dan Nino di twitter. Lagi, bikin aku terjebak dalam bayang-bayang tokoh fiktif—yang aku sendiri nggak mau bayangin wujudnya, terlalu takut kalo kenyataannya nggak sesempurna dalam novel. Cukuplah Will dan Nino hidup di novel. Tanpa harus muncul di dunia nyata.

Ngomong-ngomong, aku kangen William Hakim. Aaaak! Kehilangan Forgiven itu bikin aku nggak bisa ngelepas kangen. Pengen beli lagi, tapi belum tepat waktunya. Udah, deh. Kepanjangan. Silahkan cari di Gramedia atau toko buku lainnya dan beli Notasi. Sampulnya warna hijau. Ada kuda sama radionya. Temen-temen aku bilang sampulnya lucu. Sampul novel-novelnya kak Morra emang selalu canggih. Simpel—tapi ngegigit.

Ini sinopsisnya,

Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu....


Selamat membeli dan membaca! 


2 komentar:

sifa andrea said...

Keren, aku juga udah baca dan lagi mencoba buat merevisinya. ada tugas sekolah sih soalnya hehe. tapi well done deh, artikel ini juga menginspirasi saya untuk memulai revisi.

Rika Priwantina said...

Iya novel ini memang keren hehe. Wah selamat mengerjakan tugas sekolahnya :)