July 6, 2015

Semester Enam

Aku mau cerita betapa kejinya semester enam kemarin. Betapa aku sering nggak tidur berhari-hari. Betapa aku sering mau muntah gara-gara liat jadwal. Betapa aku pengen libur. Betapa aku pengen cepet-cepet semuanya selesai.

Tapi aku nggak sampe mikir buat mengakhiri hidup sih. Karna masih ada persoalan kehidupan lain yang lebih krusial dibanding ini. Ini cuma soal amit-amitnya masa semester enam di kampus yang tercinta.

Tapi. Faktanya, semua temen-temen ngalamin itu. Padahal belum sampe semester akhir. Hampir akhir lebih tepatnya. Rasanya lebih berat, beratnya double. Di otak, sama di batin. Adek udah terlalu lelah kak.

Di awal-awal masih ngerasa aman. Lama-lama kok makin sering ngutuk. Mulai dari hadirnya mata kuliah yang paling keji yaitu seminar skripsi. Berkat mata kuliah ini aku jadi rajin ke perpustakaan, aku jadi rajin baca jurnal yang isinya tulisan kanji, bolak-balik buka kamus, atau kalo udah nyerah buka google translate, minta bantuan. Dan hasilnya Alhamdulllah, Accepted.

Atau mata kuliah tata bahasa yang polanya makin ke sini makin bawa perasaan. Jelaskan, coba jelaskan, satu pola kalimat yang maknanya sama tapi nuansanya beda. Nuansa. Peduli apa sama nuansa.

Belum lagi mata kuliah kependidikan yang mulai berhubungan sama sistematis jadi guru, evaluasi pendidikan, hitung nilai, identifikasi soal, telaah kurikulum, dan lain-lain-lain-lainnya. Bubar lah.

Tapi. Jujur, sebenernya, mata kuliahnya nggak ada yang salah, aku pikir yang salah itu mahasiswanya. Mahasiswa semester enam yang udah jenuh sama segala hal soal kuliah. Temenku, paling pinter, paling rajin. Bahkan ngomong, “Udah nggak kuat lagi”. Lho. Terus aku? Mahasiswi yang nggak pinter-pinter amat dan lemot ini apa kabar?

Udah gitu ditengah-tengah semester enam ini aku malah ambil part time dan fokus teater, jadinya sering bolos… (yang ini abaikan karna ini murni cari-cari alesan).

Jadi, kabar IP semester ini adalah tidak melawan gravitasi, ia terjun bebas.

Meh.
Aku tuh mau kerja di Jepang. Tapi lulus N3 aja belum. Aku disuruh jadi guru. Tapi aku nggak suka.
Aku males ih mikirinnya.

Aku cuma mau judul skripsi aku nggak ganti.
Aku cuma mau lancar skripsi.
Dan sidang di pertengahan 2016.

Doaku sesederhana itu.
Karna kayaknya semester depan bakal lebih keji lagi dibanding semester enam.


Selamat datang. Selamat menikmati.

July 2, 2015

Saya Suka Fukuoka

Ini lanjutan post sebelumnya. Semua tentang perjalanan ke Jepang bulan April kemarin.

***

5 April 2015
It is Fukuoka’s turn now!


Perjalanannya sekitar dua atau tiga jam naik bis. Sepanjang perjalanan aku tidur jadi lupa liat apa aja, intinya lewat tol. Begitu nyampe langsung ke hotel, taro barang, terus langsung ke gedung pementasan namanya Momochi Palace. Jaraknya dari hotel nggak deket, harus naik subway sekitar tiga stasiun dari Ohorikoen. 

Ngomongin soal subway, ada nih 'kepolosan' kita sebagai mahasiswa yang baru pertama kali ke Jepang. Di sini sistem tiketnya agak beda sama KRL. Jadi, buat orang yang nggak punya kartu (macam e-money) harus beli tiket dulu, setelah beli tiket di jidouhanbaiki (mesin penjual otomatis) kita langsung bisa masuk. Sampe sini masih aman. Masih ngerti. Pas di gate masuk, tiketnya bisa langsung dimasukin ke mesin, terus palang kebuka, habis itu tiket keluar lagi. Naik subway dengan bahagia. Nah, pas keluar stasiun juga sama, tiket dimasukin ke mesin di gate keluar, palang kebuka, habis itu ga ada tanda-tanda tiket keluar dari mesin padahal udah banyak yang antri di belakang. Yuki-san tau-tau dateng sambil lari-lari (karna Yuki-san punya kartu jadi gate keluarnya beda), kata Yuki-san kalo keluar tiketnya nggak usah ditungguin. Hai, wakatta. Hahaha!



Dan… Fukuoka lebih dingin.
Aku langsung jatuh cinta sama Kumamoto karna suhunya hampir kayak puncak jadi aku merasa aman. Tapi di Fukuoka suhunya menurun. Hmm…

Tapi, begitu nyampe langsung disambut Panitia Pementasan Fukuoka yang semuanya pake batik. Semuanya ramah, lucu, dan ada yang ternyata pernah tinggal di Jakarta lama.
Hari pertama langsung taro barang di gedung pementasan. Habis itu ke Maizuru Park, nyanyi Sakura Yo, Kieyuku Mono e, sama Merah Putih.


Hari ini ada kunjungan ke Kyushu Visual Art, sebenernya sejak pementasan di Jakarta, tim dari KVA udah pernah bantu. Dan hari ini akhirnya punya kesempatan liat tempatnya secara langsung. Jadi, KVA itu sekolah kejuruan yang jurusannya menurut aku menarik. Kita diajak muterin sekolah ini. Ada jurusan fotografi, desain, musik, pet, komik, masak-masak, bahkan wedding. Dan masih banyak lagi, akunya lupa. Semuanya menarik. Menarik-banget!


Sorenya lanjut kunjungan lagi ke Teater Showmanship di sekitar shopping street Tojin Machi. Di sini aku ketemu satu orang yang baik banget, namanya Nanami, Hiraoka Nanami. Dia pemain teater juga, cantik, dan suka nari. Kita ngobrol kayak udah kenal lama. Bahasa Jepang aku sama sekali nggak gitu lancar, masih berantakan, tapi dia ngerti, kita sama-sama ngerti. Tapi nggak bisa lama ngobrol sama dia. Aku harus pergi lagi, tapi dia nitip surat ke sensei. Katanya mau nonton pementasan lusa di Momochi Palace. Seneng banget bisa ketemu Nanami.


Agak panjang kegiatan hari ini ternyata. Habis makan malem, aku diajak ke rumah salah satu panitia Fukuoka, namanya Yuki-san. Yuki-san pernah tinggal di Jakarta dan masih bisa bahasa Indonesia, jadi ngobrol sama Yuki-san jelas campur-campur dua bahasa. Jadinya lucu. Yuki-san punya dua anak, di rumah diajakin main uno sama mereka berdua.

6 April 2015
Rehearsal. Sama sibuknya kayak di Kumamoto. Aku tetep di bagian kostum dan karna suhunya lebih dingin dari Kumamoto, agak lebih sulit jadinya. Tapi, the cold never bothered me any way. Hahaha!

7 April 2015
Pementasan Fukuoka. Ada banyak hal-hal sebelum pementasan, masalah ini, masalah itu, beberapa anggota sakit, dan lain-lain. Tapi semuanya tetep kuat. Semua mau pementasan ini sama suksesnya kayak di Kumamoto. Dan, done! Pementasan selesai dan air mata tumpah. Kayak, akhirnya kita bisa kasih penampilan terbaik kita (walaupun mungkin belum sempurna) di Jepang. Ini mimpinya sensei, mimpinya Enjuku. Mimpinya aku.

8 April 2015
Hari ini dapet undangan ke kantor Walikota Fukuoka. Rasanya bangga. Habis itu pergi ke Kuil, tapi lupa namanya apa. Di sini juga bisa belanja barang-barang lucu, aku dapet permen kacang bentuknya orang.





Habis dari kuil, hari ini kita ke KVA lagi, ada pesta yang dibuat temen-temen KVA. Habis itu mahasiswa KVA ajak jalan-jalan. Tetep sih larinya ke shopping street, terus ke toko yang jual game sama gadget-gadget keren, tapi ada juga buku, komik, bahkan baju-baju. Fukuoka kotanya rame. Dan inilah waktunya cari oleh-oleh.


Habis jalan-jalan, kita pergi makan malem. Sekalian pesta syukuran bareng Panitia Fukuoka dan temen-temen Fukuoka di satu restoran (yang enak banget). Enak makanannya dan enak karna all you can eat. Udah nggak ngerti kenyangnya kayak apaan. Tapi tetep kepo karna pengen nyoba menu yang lain lagi. Agaknya norak ya di sini. Biarin… biarin aja.


Di perjalanan balik ke hotel mulai sadar kalo besok harus pulang. Rasanya masih belum percaya bisa pergi ke Jepang. Ketemu banyak orang. Dapet banyak pelajaran dan pengalaman baru.

Terima kasih Fukuoka! Sekali lagi, terima kasih!

9 April 2015
Hari ini pulang. Berangkatnya subuh dari Fukuoka. Naik pesawat ke Narita dulu karna nggak bisa langsung ke Jakarta. Penerbangan kira-kira dua jam. Sekitar jam 10 nyampe Narita. Karna penerbangan dari Narita ke Jakarta masih 9 jam lagi, akhirnya jalan-jalan dulu di Narita.


Sensei ajak pergi ke Kuil Shinshoji. Ada jalanan yang terkenal di sekitar kuil, namanya Omotesando. Sepanjang jalannya ada toko-toko makanan, aksesoris, barang-barang antik, macem-macem dan banyak banget. Ada patung-patung shio di sepanjang jalannya, makanan yang paling terkenal unagi (belut) tapi aku nggak coba. Tempatnya keren-banget!




Habis jalan-jalan dan belanja (lagi). Akhirnya harus balik ke bandara Narita. Dan, sensei ternyata nggak ikut pulang ke Jakarta. Sensei pulang ke rumahnya dulu di Hiroshima. Sedih, padahal nanti juga ketemu lagi di Jakarta. Tapi tetep aja, sedih karna nggak pulang bareng.

Di bandara agak nunggu lama. Jadi akhirnya milih ngabisin duit yen karna di Indonesia juga nggak bakal kepake kalo yang koin. Nambah-bawaan-aja.
Sekitar jam tujuh malem. Take-off.

10 April 2015
Dadah Jepang. Sampe ketemu lagi entah kapan… entah sampe aku bisa raih mimpi yang lebih besar lagi nanti.


Terima kasih atas sepuluh hari yang menakjubkan.

Terima kasih sensei. Terima kasih temen-temen Teater Enjuku. Terima kasih untuk seluruh orang-orang yang terlibat, di Kumamoto, di Fukuoka, di Jakarta. Terima kasih keluarga aku. Terima kasih Mirza yang selalu ada, walaupun jadinya nggak pernah ngerasain weekend bareng. Terima kasih Tika. Terima kasih Ibu Lia. Terima kasih semuanya.
Aku ngerasa mimpi ini nggak akan jadi kenyataan kalo semesta nggak sekongkol. Terima kasih ya Allah, Alhamdulillah.


Jam satu dini hari sampe di Soekarno-Hatta. Jakarta lagi. Terima kasih Jepang, aku pulang dulu, nanti aku balik lagi. 待ってください!

Saya Suka Kumamoto

Ini draft lama yang akhirnya dipost juga.

***

Akhirnya aku dikasih kesempatan pergi ke Jepang dalam rangka pementasan teater berbahasa Jepang. Seneng—banget—udah—nggak—bisa—pake—tolak—ukur.

Terima kasih buat semua yang udah support pementasan Enjuku di Kumamoto. Terima kasih atas sambutan hangatnya. Terima kasih atas keramahan dan bantuannya. Terima kasih banyak Panitia Pementasan Kumamoto dan semua temen-temen Kumamoto atas semuanya.

Aku masih inget kali pertama nyampe di Kumamoto. Begitu landing, setelah kira-kira 2 jam penerbangan dari Haneda, tepat waktu lagi dorong-dorong troli keluar, tau-tau udah rame disambut di bandara. Udah nggak ngerti mau nahan nangis kayak gimana. Sambil liat tulisan besar yang dibawa temen-temen Kumamoto, “Selamat Datang Kembali di Kumamoto”.

Semua orang-orang Kumamoto menyenangkan. Dari bandara langsung ketemu panitia, ada pesta syukuran, dan perkenalan. Hangat. Aku lupa namanya gedung apa, tapi di depannya ada pohon sakura, lagi mekar.

Mau nangis lagi.

Di sana semuanya ngobrol-ngobrol walaupun bahasa kita udah campur-campur Jepang-Inggris-Indonesia-Tubuh. Tapi menyenangkan. Rasa kayak diterima itu langsung muncul. Habis itu langsung ke hotel, beresin barang-barang buat pementasan lusa.

Besoknya harus ke gedung pementasan. Siap-siap, rehearsal.

1 April 2015
Malem pertama ketika nyampe dikasih izin pergi keluar hotel, tapi yang deket-deket aja. Akhirnya aku, Rizka, dan yang lain pergi ke luar. Kita jalan ke shopping street bentar, terus foto sekali, habis itu pulang lagi, di jalan mampir ke konbini (lawson) beli makanan.



2 April 2015
REHEARSAL. Sibuk, iya sibuuuk! Semua punya kerjaan masing-masing, mulai dari tata panggung, pameran, kostum, dan lain-lain. Waktu itu aku kebagian di kostum, setrika kimono, gantung-gantung baju, rapi-rapi make-up, sisirin wig, dan lain-lain-lain-lainnya. Walaupun kurang tidur, ngantuk di jam-jam setelah makan siang, tapi seru-seru aja kalo dikerjain bareng-bareng. Buktinya mood aku aman. Nggak rusak. Malemnya tidur. Udah nggak boleh dan nggak kuat juga kalo mau jalan keluar.

3 April 2015
Pementasan pertama di Kumamoto. Lokasi pementasannya deket dari hotel, tinggal jalan beberapa menit. Di depannya ada pohon sakura, di bawah pohon sakuranya suka ada orang-orang (biasanya nenek-nenek) duduk di bangku dan ada mejanya, sambil ngobrol di bawah sakura.


Pementasan Kumamoto selesai ditutup Kumamon Dance yang ternyata dibantu sama temen-temen Kumamoto yang lari-lari bawa boneka Kumamon di sekitar penonton. Aku dari panggung liatnya sambil nahan nangis, sambil tetep senyum lebar dan nari Kumamon Dance.

4 April 2015
Hari ini jalan-jalan. Tapi sebelumnya ada shooting buat video lagu Sakura Yo. Panitia Kumamoto yang buat projectnya. Rasanya bingung harus bilang terima kasih berapa kali lagi. Habis itu makan siang bareng sama panitia dan temen-temen Kumamoto.



Habis makan diajak jalan-jalan ke Daiso. Naik trem, ke Istana Kumamoto. Terus ke shopping street (aku lupa namanya) di sekitar situ juga. Diajak makan Manju (kue manis isi kacang), minum ocha, terus kagetnya tiba-tiba ada obasan (bibi) pemilik toko bawa tulisan “Selamat datang di Kumamoto! Assalamu’alaikum”. Toko obasan ini ternyata jual kerajinan tangan khas Indonesia. Seneng dengernya.




Malemnya pesta syukuran. Nah, begitu selesai pestanya, orang-orang udah pada sadar kalo besok harus lanjut ke Fukuoka (pementasan kedua). Akhirnya inget berarti abis ini nggak ketemu lagi. Aku liat Hayakawa-san nangis, karna susah nahannya aku juga nangis. Pamitan sama temen-temen Kumamoto yang ternyata bisa goyang dumang (ini gara-gara kak Fany). Terima kasih semuanya!!!

5 April 2015
Bangun pagi banget dan langsung naik bis ke Fukuoka. Siap buat pementasan kedua.

Dadah Kumamoto. Rasanya nggak mau ninggalin kota yang satu ini. Satu kali ke sini, aku langsung jatuh cinta. Jalanannya, deretan pohon sakura di sepanjangan jalan, pemandangan yang masih hijau, udaranya, orang-orangnya, dan Kumamonnya. Aku bakal kangen. Kangen banget. It has been a wonderful experience working with such a great people. Terima kasih Kumamoto!





Suatu saat aku ke sana lagi. Tinggal di sana. Amin. Dream accepted.

July 1, 2015

Every Step I Have Taken

Kumamoto-shi,
1 April 2015 / 23:22

Ini soal mimpi.
Mimpi ini mulai muncul waktu aku masih kelas satu SMP.
Simpel. Pergi ke Jepang.
Dengan motivasi yang cukup aneh dan nggak masuk akal juga. Mau ketemu Sasuke.

Tapi lama kelamaan aku makin excited. Setelah ketemu Ray, temenku anak Jogja yang waktu itu dapet kesempatan pergi ke Jepang karna menang lomba pidato. Dari situ, mimpi ini makin tumbuh.
Terus tumbuh.

Sampe aku masuk SMA. Ketemu pelajaran bahasa Jepang. Ketemu Sensei yang kasih motivasi untuk ikut pidato pada akhirnya, dan emang nggak bisa sampe ke tingkat nasional, tapi waktu itu aku yakin motivasi aku bukan lagi sekedar mau ketemu Sasuke. Ada yang lain. Diluar itu, mulai cari tahu soal Jepang. Mulai tertarik soal sekolah di sana, kehidupan orang-orangnya, dan lain-lain. Bahkan pernah diolok-olok, dipanggil Nippon. Dibilang freak. Banyaklah.

Dan, pastinya… diremehin.

Aku masuk jurusan Bahasa Jepang, yang kalo diliat masyarakat awam dianggap nggak akan punya impact buat negeri tercinta ini.
Tapi saat itu aku tutup telinga. Aku pikir, every step I have taken, since I was decided that major, has been to bring myself closer to my dream.
Aku nggak akan mundur. Karna maju perlahan katanya lebih baik, daripada mundur walaupun cuma selangkah.

Dua tahun belajar, dapet banyak ilmu. Rasanya aku nggak pernah nyesel milih jurusan ini. Bahkan sampe detik ini. Capek pasti, tapi bertahan itu hukumnya wajib.

Sampe akhirnya aku dapet kesempatan ini.

31 Maret 2015
Bandara Soekarno-Hatta
Finnaly! It’s time to get ready for my flight. Can’t believe the day is here.

Mimpi ini bisa jadi kenyataan berkat Teater Enjuku. Selama satu tahun berusaha bertahan, lakuin yang terbaik, capek, sakit, pusing sama kuliah, tapi harus selalu latihan tiap sabtu-minggu. Aku udah lewatin masa-masa itu.
Kalo kata Titan, “Di dunia ini nggak ada yang namanya kebetulan, karna semuanya udah tertulis.”

Kalo waktu itu aku ragu dan lebih milih Sastra Inggris. Mungkin aku nggak akan diolok-olok. Nggak akan tumbuh, nggak akan terpacu. Dan pasti aku lupa pernah mimpi pergi ke Jepang.

Lupa, atau udah nyerah duluan…

Dan kalo aku nggak masuk jurusan Bahasa Jepang, aku nggak mungkin tau Teater Enjuku, nggak akan ngasih formulir masuk ke Nova. Nasib mimpi ini pasti bakal sama. Memudar. Hilang.

Kalo ada ungkapan yang lebih besar maknanya dari ‘terima kasih’, aku kasih ungkapan itu ke Kaikiri sensei—pembimbing Enjuku, temen, ibu yang paling aku adore. Terima kasih atas kepercayaan dan kesempatannya buat aku. Aku bukan siapa-siapa, aku juga nggak punya bakat apa-apa. Tapi sensei kasih kepercayaan itu. Dan aku punya kesempatan buat mimpiku jadi nyata.

Ini bukan soal pergi ke luar negerinya. Ini soal lain, soal mimpi-mimpi yang dulu sering diumbar-umbar. Bukan sekedar pengen-pengenan. Bukan soal liburan. Bukan—

Ini soal mimpi bawa nama Indonesia ke Jepang.

Ini juga pembuktian kalo aku tuh bisa. Apa-apa yang aku suka dari dulu, pasti ada manfaatnya. Dan, never believe those who says you can’t. Nggak ada yang nggak mungkin, asalkan percaya sama diri sendiri.

Dan mulai hari ini, mimpi ini akan terus tumbuh.
Aku nggak perlu ragu.

***

Notes:
Aku baru sempet posting. Lama nggak buka blog ini. Berasa udah jadi manusia paling sibuk, hih. Tapi sebenernya aku kangen ngeblog. Aku kangen berbagi tulisan di sini dengan atau tanpa pembaca. Kalo kata seorang sastrawan besar kita, “Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

Happy blogging! Aku baru liburan, semester enam udah abis, semester paling heboh dan ancur-ancuran! Nanti aku cerita soal itu, soal amit-amitnya semester enam! IHHH!


Dan, selamat puasa bagi temen-temen yang menjalankan. Almost setengah jalan ya. Semoga lancar sampe lebaran. Sahur dulu ya!