June 27, 2014

Rika di Masa Lalu


Karna pada akhirnya aku mulai berubah.
Careless. Heartless.

Belakangan ini aku ngerasa begitu. Tingkat ketidakpedulian meninggi. Dan itu buruk. Cuma beberapa hal aja yang aku peduliin. Terutama keluarga. Itu aja cukup. Sisanya terserah lo mau ngapain juga gua nggak peduli—gitu kira-kira.

Gara-gara postingan Marisa yang ini, aku juga pelan-pelan liat ke belakang. Aku di masa lalu. Aku di masa-masa SMA. Masih berantakan, masih sering lupa diri, luapin segalanya secara spontan, masih labil, dikit-dikit galau, dan sangat-sangat-sangat alay. Tapi dibanding aku yang sekarang. Sama kayak Marisa. Aku pun lebih suka aku yang dulu. Rika di masa lalu. Rika yang pernah dibilang “Lo, dengan mimpi yang langit bahkan bukan batasannya.”

Aku. Si pemimpi. Si pembuat mimpi.

Dan sekarang. Semua serba terbatas. Aku terlalu terpaku sama sesuatu. Aku terlalu banyak mikir. Apa-apa dipikir. Ini-itu dipilih. Rika yang sekarang terlalu takut buat pindah, bahkan buat sekedar bergerak. Ruangnya sempit.

Dulu, aku bebas ceritain apa-apa yang terjadi di sekeliling. Terkadang terlalu detail. Hal kecil pun nggak luput dari jejak blog ini. Tapi sekarang, disamping rekaman ingatan aku mulai menua, aku mulai mikir-mikir kalo mau nulis suatu kejadian di blog ini. Atau terkadang udah nulis, lalu ditinggal gitu aja. Kasian cuma jadi draft.

Dear orang-orang yang aku sayang—
Aku bukannya lupa. Aku selalu inget. Tapi ada satu—dan beberapa hal—yang mungkin aku mulai nggak ngerti. Bukan lupa kaliannya.

Astri. Astri di mana sekarang? Apa kabar?—Tapi aku tau. Dari line. Udah—nggak lebih. Itu rasanya memalukan. Nggak pernah berani tanya, nggak pernah berani komentar. Aku kangen. Mau ketemu. Rasanya udah berbulan-bulan sejak kita ketemu di—aku inget—di acara job fair itu. Pertemuan yang terlalu singkat.

Mirza. Aku kangen, mau ketemu. Cukup itu. Karna ada banyak hal yang terlalu susah ditulis. Mungkin kita nggak putus komunikasi, tapi aku yakin… ada yang putus dari koneksi kita—entah apa itu—aku yakin. Belakangan ini aku berubah. Dan itu jadi masalah—aku takut.

Amyus. Tetep jadi yang paling santai. Aku yakin Amyus pun mulai ngerasa aku berubah. Aku udah nggak lagi kayak dulu. Jauh dari kata periang. Aku yang sekarang lebih terlihat ‘sok-dewasa’. Dan aku yakin Amyus sadar.

Cinta. Jangan tanya lagi, aku nggak ngerti harus jawab apa. Di kampus. Di mana pun. Aku sadar aku berubah.

Cecil. Aku bukan nyalahin. Tapi, you’ve changed too.

Semuanya. Mungkin kalo aku nggak bisa lagi jadi Rika yang dulu, —aku sedikit-sedikit bakal mulai berubah. Lebih memperhatikan.

HAHHH! Anyway, KHS semester 4 udah bisa diliat. Dan, entah harus berapa kali aku bersyukur. Terima kasih ya Allah. Hasilnya sesuai sama yang aku mau . :)

Malam. Selamat mimpi indah. Aku juga—karna belakangan ini aku selalu mimpi buruk. Oh ya, bagi yang menjalankannya. Selamat memasuki bulan Ramadhan dan menjalankan ibadah puasa dengan lancar. Amin.

FYI, aku puasa hari minggu. Hehe.