August 31, 2013

[Comming Soon] Kastil - Rika Priwantina

Halo penghujung Agustus :P

Cepet bat. Iya, cepet banget. Enggak terasa besok udah mulai September. Padahal kayaknya baru kemarin tahu n baruan. Hahaha.

OH YA, TADAAA!

 
Sebenernya udah  lama mau cerita di sini. Cuma, belum tepat aja waktunya. Jadi gambar di atas itu adalah… ehem… gambar buku. Ya, bukan buku biasa (BBB) gitu. Apaan sih. Jadi, itu buku aku (yang judulnya The Shores and The Piano). Meski sebenernya bukan cuma punya aku, di dalem buku itu ada beberapa penulis lainnya.

Tetep, sih, aku seneng punya buku :)

Awal ceritanya waktu bulan  Februari, jadi ada lomba novelet dari Peri Penulis. Aku iseng, ikutan. Ternyata… lolos. He-he-he. Pengumumannya waktu bulan Maret. Inget banget aku lagi di mikrolet kebetulan buka Facebook mau update status, eh… ada pengumuman kalo aku masuk tiga besar (urutan ketiga). Tetep, sih, seneng banget! Hahaha. Dan yang aku kasih tau pertama kali itu Dear-nya aku yang jauh di Malang. Makasih atas kisah-kisah yang kita pernah lalui :’) I love you. Terus sms Mama aku (pas aku pulang ke rumah, langsung ditanya-tanya :P). Habis itu sms temen kampus aku; Chintarani—yang namanya aku pinjem buat novelet aku. He-he-he.

Terus, aku dihubungi sama kakak-kakaknya yang baik hati bangeeet. Setelah dikirimin revisi naskahnya aku perlu ngobrol (lewat YM) sama kak Maria atau kak Yohanna. Akhirnya aku ngobrolin naskah aku, bahkan sampe ngomongin DEPAPEPE sama kak Maria, atau  sampe ngerencanain ketemuan sama kak Yohanna. Mereka baik bat. Welcome banget pula. Overall, asik.

Habis itu aku dikirimin penampakan covernya. Beuh, itu aja aku udah seneng banget. Padahal sih belum jadi. Ya, gimana… aku kan baru pertama kalinya nerima kenyataan kalo tulisan aku bakal diterbitin. Jadi buku. Itu rasanya… tau lah pasti ya. Meski aku tau ini baru langkah awal. Dimulai dari yang kecil.

Ini covernya.

NAH. JEDA SELAMA DUA BULAN. Aku ngerti sih karna ini self-publishing, jadi pasti masing-masing staffnya punya kesibukan masing-masing. Kayak sama kak Yohanna yang suka saling nanyain kabar gitu kalo chatting. Ujung-ujungnya curhat kalo lagi sibuk ini-itu makanya penerbitannya agak sedikit terlambat. Aku sih enggak apa-apa, udah seneng dari awalnya, jadi nunggu selama apa pun, ya monggo. Hehe.

Dan hari ini pas aku bangun tidur kan biasa tuh cek semua akun media sosial, hahahaha. Pas aku liat notifikasi Facebook eh ada tag dari kak Yohanna. Itu… daaan akhirnya bukunya segera terbit bulan depan. Enggak tau lagi harus nyengir selebar apa :P

Aku mau cerita dikit tentang novelet aku. Ada tiga buku. Dari tiga besar, kakak-kakak Peri Penulis, dan sepuluh besar.

Novelet aku judulnya Kastil. Ya, jadi itu ceritanya tentang sepasang kekasih yang (kasarnya) enggak dapet restu dari Ibu si laki-lakinya. Tapi mereka tetep bertahan, bahkan di tengah jarak yang jauh. Iya, aku buat mereka LDR juga (ini sih pengalaman pribadi). Pelik, sih. Aku juga males kalo hubungannya sepelik itu, intinya mereka bertahan. Mereka berjuang di tengah mimpi-mimpi mereka. Punya tujuan yang sama. Mau bertahan berdua. Kastil juga kental banget sama musik klasik dan balet. Sengaja, soalnya menyesuaikan  tema yang dikasih sama Peri Penulis; Valentine's Day (bisa pilih antara Musik, Cokelat, atau Bunga Mawar).

Jadi, enggak sabar nunggu September :P

Jika semesta berdoa untuk hubungan Nandra dan Rani, mungkin Ibu Nandra adalah manusia terakhir yang mengucapkan sepatah doa itu. Rani sadar ia bukanlah gadis yang sempurna, meski Nandra selalu mengatakan bahwa tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan gadis sesempurna Rani. —Kastil, Rika Priwantina

August 11, 2013

Selamat Lebaran

Telat ya, tapi enggak apa-apa lah ya. Daripada enggak sama sekali.


Mohon maaf lahir dan batin. Maaf mungkin aku pernah bikin salah, entah itu salah dalam hal apa pun. Kita semua tau, manusia enggak pernah luput dari salah, meski selalu ada usaha memperbaiki, enggak jarang ketidaksengajaan itu muncul. Jadi, saling memaafkan itu penting, enggak cuma di hari Lebaran kok, setiap hari, we must do that. Selamat lebaran, semuanya!

Aku enggak ikut mudik tahun ini. Alasannya, takut capek, takut sakit. Masalahnya mulai dari tanggal 15 Agustus nanti aku pasti udah sibuk sama kegiatan di kampus lagi. Ya! Liburan akhirnya usai. Sedih—tapi lumayan ditunggu juga sih. Aku mulai perkuliahan semester 3—YA, IYA, AKU UDAH SEMESTER 3—tanggal 26 Agustus, tapi karna aku jadi panitia ospek, aku harus masuk lebih dulu. Ha-ha-ha.

Setelah kegiatan ospek. Aku ikut kegiatan di luar kampus, nanti aku posting kalo projectnya udah kelar, habis itu nyambung kepanitiaan kegiatan di himpunan yang lain, dan belum lagi… semester 3 ini ada 22 SKS. Pasti deh, makin padat, dan… harus siap mental akunya. Ganbare~!

Pagi ini aku di rumah. Masih leye-leye. Padahal (kayaknya) masih ada kewajiban. Tapi aku bingung harus mulainya gimana. Ha-ha-ha.

Selamat Lebaran dan selamat mudik semuanya!

August 5, 2013

Dear


Kamu yang pertama. Kamu selalu jadi yang utama.

Entah siapa yang nyusun rangkaian pertemuan dramatis waktu itu. Hujan besar, Matsuri, kertas Tanzaku, dan orang-orang di sekitar. Aku selalu simpen memori itu. Tahun-tahun di mana kita berdua masih jadi anak SMA. Tahun-tahun di mana aku selalu susah dapet izin buat pergi sendiri.

Itu kertas Tanzaku (kertas harapan) yang aku beli seribuan di acara Matsuri. Dan satu harapan aku terkabul—ketemu kamu :)

Sampe akhirnya sekarang masing-masing dari kita udah tumbuh besar. Kita yang sekarang tetep jalanin hubungan. Padahal jarak hampir seribu kilometer udah membentang dan ngeselin. Jauh—minta ampun.

Tapi aku bertahan. Meski ada banyak hal-hal yang enggak bisa terjabarkan gimana pedihnya, gimana sakitnya, gimana nyebelinnya. Tapi selama masih banyak juga hal-hal yang dengan mudahnya bikin aku senyum, ketawa, dan ngerasa bangga. Aku enggak mundur.

Kamu tau? Satu-satunya manusia yang bisa ilangin bete aku secepat kilat ya—Cuma kamu.

Kamu lucu. Enggak, kamu menyenangkan—selalu. Ada aja hal-hal yang bikin aku ketawa tiap ngobrol sama kamu. Apa pun—segalanya—bahkan cuma sekedar waktu kamu niruin gaya Ade Rai lalu dilanjut pose imut dengan kedua jari megang pipi yang digembungin. Oh dear, please. Cepetan pilih bajunya, kita mau jalan, dan kamu malah kelamaan—Tapi aku enggak kesel. Malah ketawa. Dan aku suka kalo kita ketawa bareng. Waktu main jankenpon, ayam-ayaman, sampe main jadi penyiar radio boongan. Kamu selalu menyenangkan.

Kamu penuh kejutan. Ada beberapa titik jenuh yang selalu muncul selama kita jauh. Tapi selalu ada sesuatu yang kamu lakuin. Bulan lalu, waktu hubungan ini hampir selesai. Dan… aku mulai mundur perlahan, cuma aja masih terus bertahan. Kamu chat aku, kamu bilang mau pulang, dan… ternyata kamu masih nanya apa aku mau jemput atau enggak. Aku mau—tanpa diminta, tanpa ditanya. Di stasiun itu, pagi itu aku nunggu. Dan kamu muncul… aku senang. Kamu masih inget pulang, dan masih sama aku.

—juga ditengah sambungan Skype malem itu. Kamu pasang gambar yang aku buat, yang cuma aku upload ke Instagram, enggak kasih tau kamu, tapi kamu… tau itu, dan pake itu. Juga status whatsapp yang bilang kangen sama aku. Atau waktu tengah malam, pas kamu dapet masalah, kamu chat panjang lebar—sampe akhirnya kamu tenang—you said, I love you. Love you too :)

You make me smile so easily. Ulang tahun aku ke-18, satu paket dateng ke rumah, dari kamu. Paket itu spesial—meski buat aku, segala hal yang berhubungan sama kamu itu ya spesial.

—senyum lagi. Ditengah obrolan telepon kita yang agak absurd malem itu, kamu kasih aku lagu. Naif – Karena Kamu Cuma Satu. Lalu kamu nyanyi, aku dengerin. Dan waktu kita lagi sama-sama di depan laptop, kamu ajak nyanyi—One Ok Rock – Wherever You Are—cuma begitu pun, aku dengan mudahnya bisa senyum.

—senyum yang lain. Pernah kamu bohongin aku, kamu bilang enggak jadi pulang. Tapi tiba-tiba kamu kirim foto—satu tiket, Surabaya-Jakarta, malem itu juga—aku senyum, terharu. Dan… masih banyak senyum-senyum lainnya yang aku dapet dari kamu.

:)

Kamu nyaman. Ada beberapa hal yang selalu bikin aku takut. Salah satunya hantu. Habis dari Matsuri itu, kamu anter aku pulang. Langit udah gelap, waktu itu kita lewat sepanjang jalan UI yang samping kanan-kirinya pohon-pohon besar—gelap. Kita jalan berdua—bener-bener cuma berdua—dan kamu pegang tangan aku. Simpel. Tapi aku suka itu dan enggak takut lagi.

Kamu yang bikin tenang. Aku nangis di bahu kamu malem itu. Di mobil waktu kita habis hadir ke acara nikahan saudara kamu. Aku takut kamu enggak percaya lagi sama aku gara-gara beberapa baris chat dari orang itu. Kamu marah, tapi selanjutnya… kamu bisa bikin aku tenang.

Aku selalu suka. Cara kamu bicara. Cara kamu tertawa. Dan segala cara kamu yang selalu bisa bikin aku bahagia. Ada masa-masa ketika kamu berubah—dan itu menyebalkan. Memang—

Tapi sekarang, aku selalu percaya kamu. Apa pun yang terjadi. Jalani. Kalau mimpi-mimpi dan semua rencana kita enggak jadi kenyataan. Mungkin belum saatnya. Aku enggak tau kapan saatnya, cuma… saat-saat ini, atau saat-saat nanti… aku harap masih bisa ngumpulin banyak kenangan sama kamu. Berdua—aku sama kamu.

Satu hal. Dari awal aku kenal kamu. Kamu ngajarin banyak hal—pengalaman, arti hidup, kedewasaan, cinta, dan banyak cerita yang sering kamu bagi sama aku sejak dulu sampe sekarang. Kamu, orang yang paling istimewa sejak itu, dan selalu istimewa. Mungkin kalo kamu enggak nelponin aku tiap tengah malem waktu kita masih SMP—dulu. Sekarang, aku enggak kenal kamu. Dear, dulu itu neror atau modus? :P


Love,

Dear-nya kamu♥ 

-


Postingan ini diikutsertakan dalam Giveaway 4th Anniversary Emotional Flutter.