January 28, 2013

Waktu Aku Sama Mirza



Kita ketemu lagi. Mesti selang tiga bulan kita baru bisa ketemu. Lama sih, tapi nggak apa-apa selama kita masih bisa ketemu. Waktu itu aku juga bilang gitu.

Selama ini ada banyak hal di hubungan kita. Masalah, salah paham, beda pemikiran, ego, dll. Dari yang sepele sampe yang... Agak berat. Dari termaafkan sampe menyerah. Aku nggak ngerti, tapi aku percaya.


Jarak itu berpengaruh. Tapi sejauh ini aku yakin. Pembuktiannya cuma pas ketemuan, disaat kita jauh, semua hal yang manis pun jadi pahit. Entah—tapi aku sayang kamu, masih sayang sama kamu.


Kamu pulang tanggal 17 Januari kemarin, hari kamis itu hari ternyebelin buat aku. Aku nggak bisa jemput kamu di stasiun. Tapi untungnya kita masih bisa ketemu (19/1). Aku ke rumah kamu, ketemu sama ibu, ayah, kakak, dan kamu. Seneng-pake-banget. Walaupun cuma sehari tapi aku seneng. Tadinya sih aku ragu mau ketemu kamu, aku takut. Tapi berubah waktu aku liat kamu secara nyata, aku kangen kamu, kangen beneran sama kamu. Malemnya kamu anterin aku ke kostan. Lucu. Aku seneng. Kita makan nasi goreng berdua. Aku suka makan sama kamu. Aku suka ngapain aja sama kamu. Besoknya aku ada acara—UDO 2013. Maaf belum bisa spend time together lebih lama. Aku masih kangen kamu!



(24/1) Kita ketemu lagi. Aku seneng bisa ngobrol lebih lama sama kamu. Lebih deket sama kamu. Aku suka. Ada banyak hal yang kamu ceritain. Ada banyak hal yang kita lakuin berdua. Ada banyak banget. Cuma bisa diungkapin lewat perasaan aku—perasaan yang bahagia. Oh ya! Nanti main Jankenpon lagi ya! Ihihihi. Sama main ayam-ayam-an, sama tekuk-tekuk jari aku lagi, terus... Semuanya!



Kemarin lusa (25/1) kita jalan. Kita nonton—itu pertama kalinya kita nonton berdua. Nonton Mika, film yang diangkat dari novel Waktu Aku Sama Mika. Aku inget, novel itu aku bawain buat kamu waktu kamu dirawat setahun yang lalu. Dan sekarang novel itu dibikin film, terus aku nontonnya sama kamu. Seneng banget.


Aku suka nonton sama kamu, filmnya bagus, kamu suka sama backsoundnya
—yang teriak-teriak gitu, kalo aku suka semuanya, walaupun filmnya beda jauh sama imajinasi aku waktu baca novelnya. Kita buang waktu banyak buat nonton ya—yang harusnya bisa buat jalan lebih lama lagi. Yup, waktu kita sempit, jarak kita jauh. Aku menghargai setiap detiknya kalo lagi sama kamu. Aku suka kalo bisa lebih lama deket sama kamu.

Habis nonton kita makan. Kamu ajak aku makan seafood, padahal aku nggak suka seafood, tapi aku tetep seneng. Aku seneng kalo lagi sama kamu. Jangan tanya kenapa atau apa alasannya, soalnya aku nggak akan pernah bisa jawab. Jawabannya cuma bisa diliat dari senyuman aku :P


Terus kita pulang, tapi aku mau es krim. Kamu berenti di indomart biar aku bisa beli es krim. Makasih ya, sayang. Walaupun akhirnya aku nggak makan es krimnya :P



Time flies, cepet banget. Aku harus pulang ke rumah. Dan… lagi-lagi karena jarak. Padahal kita belum bikin edisi baru. Ffuu! Take care, semoga masih banyak kesempatan buat kita. Amin.



Kak Indi, aku pinjem judul novelnya ya, diubah dikit. Tapi aku nggak pernah mau jalannya bakal sama kayak novel kak Indi. Aku punya cerita sendiri. Punya akhir sendiri—yang aku juga belum tau apa akhirnya. Yang jelas aku mau segalanya baik-baik aja. Aku cuma bisa berdoa. Dan aku titip pesen sama kamu. Tolong dijaga, aku mohon. Aku juga bakal jagain sebisa aku.



I'll love you for a thousand more...

0 komentar: