September 25, 2012

Didn't we?

Kamu berubah dan memang seperti itulah kamu. Dengan kata lain akulah yang berubah, bukan kamu. Aku mengakuinya. Aku nggak pernah ngerti apa arti kecocokan. Aku sama kamu, tertawa, berbicara, chatting, apakah hanya seperti itu yang disebut cocok?

Aku nggak tau.

Kita saling mengisi. Itulah yang kuterjemahkan kecocokan. Satu sama lainnya saling mengisi, seperti paus dan ikan remora. Ada saat di mana aku membutuhkanmu dan ada juga saat di mana kamu membutuhkanku. Saling-mengisi-satu-sama-lain. Didn’t we? Aku nggak tau.

Aku milih kamu dan aku selalu bangga. Dari awal harusnya aku bisa survive dengan sikap-sikapmu. Aku tau apapun ceritaku, you never interested. Kecuali ada yang berhubungan sama yang kamu suka. Banyak yang mau aku ungkapin, terpaksa aku simpen lagi. Mungkin aku yang salah, cerita di waktu yang nggak tepat.

Aku cuma butuh didengar. Kalo aku udah ungkapin semuanya, aku juga sadar diri, kamu bukan tempat pembuangan, kamu juga butuh didengar, dan aku selalu berusaha dengar semampuku, bahkan aku selalu berusaha menyukai apa cerita kamu. I’ve tried to interested.

Dan akhir-akhir ini aku nggak gitu.

Belakangan ini, I never judge you. Aku selalu inget kata-kata di novel dan sepertinya aku memang harus mengikuti kata-kata itu.

“Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh”
― Dee, Perahu Kertas

Hati ini memang buat kamu atau kamu juga bilang kamu udah milih aku. Tapi who knows setahun atau beberapa tahun lagi, hati kita lebih nyaman berlabuh di mana, dia tau tempat yang paling nyaman buat dia, aku sendiri nggak pernah tau dan nggak bisa maksa. Aku nggak sepenuhnya ngerti apa maksud kata-kata itu. Tapi aku yakin itu maksudnya.

Aku memang punya harapan, punya beberapa keinginan buat hubungan kita. Dan untuk sekarang yang bisa aku lakukan adalah jalani hidup yang udah tertata. Mungkin tatanan hidup aku nanti berubah. Mungkin ada saat di mana aku harus keluar dari zona aman yang selama ini aku geluti.

Aku nggak akan maksa. Aku lepas semuanya. Nggak selamanya logika selalu merajai, kadang perasaan juga harus dipatuhi. Dan kadang, kata hati selalu menjadi pilihan ternyaman, seburuk apapun kondisinya.

Dan sekarang ini, entah berapa lama, entah bagaimana, entah jadi apa kita. Ya, kita berdua.



—RN

0 komentar: